Rabu, 09 Maret 2011

LAPORAN PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN

oleh : RIA HARMAYANI, Dkk.
PROGRAM STUDI ILMU NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN-UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2009

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Jerami dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, bahkan cenderung dianggap sebagai limbah. Di Korea, budaya membakar jerami sudah ditinggalkan sejak tahun 90-an. Sedangkan di Jepang jerami dipotong-potong dan dikeringkan untuk kemudian dibenamkan kedalam tanah saat membajak. Langkah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesuburan tanah.
Jerami padi merupakan salah satu hasil ikutan pertanian terbesar di Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 20 juta ton per tahun, produksinya bervariasi sekitar 12 - 15 ton per hektar atau 4 - 5 ton bahan kering per hektar satu kali panen, tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan.
Perbandingan antara bobot gabah yang dipanen dengan jerami umumnya 2:3. Bila produksi gabah secara nasional dalam satu tahun 50 juta ton saja, berarti akan menghasilkan jerami sebesar 75 juta ton. Dari satu hektar sawah diperkirakan menghasilkan 5-8 ton jerami, bergantung pada varietas yang ditanam dan tingkat kesuburan tanaman. Sehingga pada luasan 100 ha pertanaman padi yang panennya bersamaan, berarti dapat dihasilkan 500-800 ton jerami. Dengan demikian akan terjadi penimbunan jerami pada petakan sawah seluas 5-7% dari total luas petakan.
Jerami padi pada umumnya tidak digunakan oleh pemiliknya. Kalaupun digunakan oleh orang lain, tidak ada perhitungan ekonomi antara pemilik dengan pengguna jerami tersebut. Secara konvensional sebagian petani memanfaatkan jerami sebagai alas lantai kandang ternak, pakan, bahan bakar, atap rumah, alas tidur, pelindung persemaian, dan pupuk organik.
Badan Litbang Pertanian telah melakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui sejauh mana potensi pemanfaatan jerami padi. Sebagai sumber hara tanaman, jerami ternyata mengandung N, P, K, S, Si, Ca, dan Mg. Disamping itu jerami juga sebagai sumber bahan organik dan pembenah tanah, bahan kompos, konservasi lahan, media jamur merang, bahan bakar dan biogas, pelengkap pemeliharaan ikan/udang, bahan baku industri, bahan penyerap logam berat dalam air dan pakan ternak. Salah kelola jerami padi seperti membakar, menyebarkan jerami mentah pada lahan sawah, pemberian pakan ternak langsung, dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat pembakaran jerami, juga kurang menyehatkan ternak.
Sebagian besar jerami padi tidak dimanfaatkan, karena selalu dibakar setelah proses pemanenan. Sedangkan di sektor peternakan membutuhkan makanan ternak (pakan) yang harus tersedia sepanjang waktu dan sepanjang musim untuk menjaga agar produktifitas ternak tidak menurun.
Oleh karena itu, jerami padi sangat penting untuk dimanfaatkan menjadi makanan ternak ruminansia khususnya sapi potong, kambing dan domba agar dapat meningkatkan produktivitasnya, sehingga produksi daging akan meningkat yang akhirnya tujuan swasembada daging dapat tercapai.

Tujuan dan kegunaan Praktikum

Tujuan
1. Untuk mengenal dan memahami bagaiman cara pemanfaatan jerami yang jumlahnya melimpah untuk dijadikan sebagai pakan ternak yang berkualitas tinggi.
Manfaat
2. Agar dapat mengurangi dan mencegah pembakaran jerami yang telah menjadi kebiasaan masyarakat, dengan memanfaatkannya menjadi pakan ternak yang berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi ternak sehingga lingkungan tidak tercemar limbah jerami dan masyarakat dapat mengambil manfaatnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Jerami padi merupakan salah satu hasil ikutan pertanian terbesar di Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 20 juta ton per tahun, produksinya bervariasi sekitar 12 - 15 ton per hektar atau 4 - 5 ton bahan kering per hektar satu kali panen, tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan. Sebagian besar jerami padi tidak dimanfaatkan, karena selalu dibakar setelah proses pemanenan. Sedangkan di sektor peternakan membutuhkan makanan ternak (pakan) yang harus tersedia sepanjang waktu dan sepanjang musim untuk menjaga agar produktifitas ternak tidak menurun. Oleh karena itu, jerami padi sangat penting untuk dimanfaatkan menjadi makanan ternak ruminansia khususnya sapi potong, kambing dan domba agar dapat meningkatkan produktivitasnya, sehingga produksi daging akan meningkat yang akhirnya swasembada daging dapat tercapai.
Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak sapi potong, kambing, dan domba, agar dapat berdaya guna dan berhasil guna diperlukan suatu teknologi yang sederhana dan mudah dalam mengerjakannya, tetapi tetap berkualitas. Teknologi tersebut antara lain melalui amoniasi. Amoniasi merupakan teknik perlakuan kimiawi dengan penambahan unsur N dari urea yang ditambahkan pada jerami, sehingga terjadi poses perombakan struktur jerami yang keras menjadi struktur jerami yang lunak, untuk meningkatkan daya cerna (digestibility) dan meningkatkan jumlah jerami yang dimakan (feed intake) oleh sapi.
Jerami merupakan bagian dari batang tanaman padi tanpa akar yang dibuang setelah diambil butir buahnya. Jika jerami padi langsung diberikan kepada ternak sapi, daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit. Di samping itu jerami mempunyai nilai gizi jerami yang rendah karena kandungan proteinnya rendah. Melalui teknik amoniasi dapat mengubah jerami menjadi pakan ternak yang potensial dan berkualitas karena melalui amoniasi dapat meningkatkan daya cerna dan meningkatkan kandungan proteinnya.
(http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/amoniasi-jerami-padi-sebagai-pakan-ternak-1228791078.html)

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

Materi Praktikum
Alat :
1.Plastik untuk fermentasi
2.Ember
3.Tali rapia
4.Timbangan

Bahan :
1.Jerami padi
2.Urea
3.Air secukupnya

Metode Praktikum
Adapun metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.Menyiapakan alat dan bahan
2.Menimbang jerami padi sebanyak 850 gr BK (kadar air diperkirakan 15%) atau sebanyak 1 Kg jerami dalam bahan segar,
3.Menimbang urea sesuai dengan persentase amoniak masing-masing 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6% dari BK jerami padi,
4.Mencampur urea dengan air secukupnya,
5.Memasukkan jerami padi ke dalam plastik dan mencampurnya dengan urea yang telah dicampur air secukupnya,
6.Memfermentasi jerami padi dalam keadaan anaerob selama ± 1 bulan,
7.Mencatat kadar air, jumlah jerami padi dan jumlah urea serta kandungan amoniak yang digunakan,
8.Memperhatikan dan mencatat perubahan yang terjadi setiap minggunya.
9.Setelah 1 bulan, hasil amoniasi dikeluarkan dari plastik,
10.Mengangin-anginkan jerami hasil amoniasi selama ± 3 hari untuk menghilangkan aroma amoniak yang menyengat, dan
11.Memperhatikan dan mencatat perbedaan hasil jerami fermentasi dengan persentase amoniak masing-masing 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6% dari BK jerami padi.

TEMPAT DAN TANGGAL PRAKTIKUM

Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Hijauan dan Padang Penggembalaan, Lantai 2 Gedung D Fakultas Peternakan, Universitas Mataram.

Tanggal Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 16 oktober 2009.


HASIL PRAKTIKUM

Hasil Praktikum
Tabel uji organoleptik jerami padi amoniasi dengan persentase urea 1%, 2%, 3%, 4%, 5% dan 6%, saat dibuka dari plastik fermentasi :
No. Persentase Urea Aroma (Bau) Tekstur Warna Jerami
1.


2.


3.





4.





5.


6. 1%


2%


3%





4%





5%


6% Amoniak tidak terlalu berbau.

Amoniak agak sedikit berbau.

Amoniak berbau namun tidak terlalu menyengat.


Amoniak berbau menyengat.



Bau amoniaknya menyengat.
Bau amoniaknya sangat menyengat. Jerami masih kasar dan keras.

Jerami masih kasar dan keras.

Jerami sudah agak lembek dan tidak terlalu keras.



Jerami sedikit lembek.




Jerami sudah lembek dan mudah sobek.
Jerami sudah lembek dan mudah sobek. Jerami masih berwarna kuning.

Jerami masih terlihat kuning kecoklatan.

Jerami masih berwarna kuning namun warna kuningnya tampak pudar.

Jerami masih berwarna kuning namun warna kuningnya tampak pudar.

Jerami masih kuning kecoklatan dan sedikit keabu-abuan.
Jerami berwarna coklat keabu-abuan.

Pembahasan
Amoniasi merupakan teknik perlakuan kimiawi dengan penambahan unsur N dari urea yang ditambahkan pada jerami, sehingga terjadi poses perombakan struktur jerami yang keras menjadi struktur jerami yang lunak, untuk meningkatkan daya cerna (digestibility) dan meningkatkan jumlah jerami yang dimakan (feed intake) oleh ternak ruminansia.
Jerami merupakan bagian dari batang tanaman padi, jagung, dan palawija lainnya, tanpa akar yang dibuang setelah diambil butir atau buahnya. Jika jerami padi langsung diberikan kepada ternak sapi, daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit. Di samping itu jerami mempunyai nilai gizi jerami yang rendah karena kandungan proteinnya rendah. Melalui teknik amoniasi dapat mengubah jerami menjadi pakan ternak yang potensial dan berkualitas karena melalui amoniasi dapat meningkatkan daya cerna dan meningkatkan kandungan proteinnya.
Prinsip dalam teknik amoniasi ini adalah penggunaan urea sebagai sumber amoniak yang dicampurkan ke dalam jerami. Amoniasi dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering. Cara basah yaitu dengan melarutkan urea ke dalam air kemudian baru dicampurkan dengan jerami. Sedangkan cara kering ureanya langsung ditaburkan pada jerami secara berlapis. Pencampuran urea dengan jerami harus dilakukan dalam kondisi hampa udara (an-aerob) dan dibiarkan/disimpan selama satu bulan.
Dalam praktikum ini digunakan cara basah, dimana dalam proses amoniasi urea berfungsi untuk menghancurkan ikatan-ikatan lignin, selulosa, dan silica yang terdapat pada jerami, karena lignin, selulosa, dan silica yang merupakan faktor penyebab rendahnya daya cerna jerami. Lignin merupakan zat kompleks yang tidak dapat dicerna oleh ternak, terdapat pada bagian fibrosa dari akar, batang, dan daun tanaman dalam jumlah yang banyak. Selulosa adalah suatu polisakarida yang mempunyai formula umum seperti pati yang sebagian besar terdapat pada dinding sel dan bagian-bagian berkayu dari tanaman. Demikian juga silica tidak dapat dicerna oleh ternak.
Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa persentase amoniak yang efisien digunakan dan hasilnya baik adalah amoniasi jerami dengan persentase amoniak 3-5% per 1 kg BK jerami padi, sedangkan untuk amoniasi jerami dengan persentase amoniak 6% per 1 kg BK jerami padi menghasilkan amoniasi jerami yang kualitasnya sangat baik tetapi tidak efisien.
Untuk lebih jelasnya, hasil praktikum dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini :


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.Penambahan persentase amoniak yang berbeda dalam amoniasi jerami padi memberikan hasil yang berbeda pula, khususnya dari bau amoniak, warna jerami, dan tekstur jerami hasil amoniasi.
2.Persentase amoniak yang efisien digunakan dan hasilnya baik adalah amoniasi jerami dengan persentase amoniak 3-5% dari bahan kering kering jerami.
3.Amoniasi jerami dengan persentase amoniak 6% per 1 kg BK jerami padi menghasilkan amoniasi jerami yang kualitasnya sangat baik tetapi tidak efisien.
4.Prinsip dalam teknik amoniasi adalah penggunaan urea sebagai sumber amoniak yang dicampurkan ke dalam jerami.
5.Fungsi urea dalam amoniasi adalah untuk menghancurkan ikatan-ikatan lignin, selulosa, dan silica yang terdapat pada jerami, seingga dapat meningkatkan daya cerna pada jerami.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/amoniasi-jerami-padi-sebagai-pakan-ternak-1228791078.html

Diwyanto, K. dan B. Haryanto. 2002. Pakan alternatif untuk pengembangan peternakan rakyat. Rakor Pengembangan Model Kawasan Agribisnis Jagung TA 2002. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Jakarta 29 April 2002.

PERFORMANS PETERNAKAN SAPI DALAM KANDANG KOLEKTIF ”MAKMUR JAYA” DESA BATU KUMBUNG, KECAMATAN LINGSAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG
OLEH RIA HARMAYANI
BIB.007.019
PROGRAM STUDI ILMU NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN-UNIVERSITAS MATARAM
2010

PENDAHULUAN

I.Latar Belakang
Pada tahun 2008, Pemerintah Nusa Tenggara Barat telah mencanangkan NTB sebagai “Bumi Sejuta Sapi” sehingga NTB merupakan salah satu wilayah pengembangan peternakan sapi dalam peningkatan ekonomi, daya beli, kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu upaya untuk memperbaiki, memajukan dan menunjang keberhasilan dalam dunia peternakan adalah dengan meningkatkan pengelolaan kandang ternak, yaitu dengan pengembangan sistem kandang kolektif. Yakni kandang-kandang ternak yang ditempatkan secara berkelompok pada suatu bidang tanah tertentu.
Tujuan dari pemeliharaan sapi dalam kandang kolektif adalah untuk melindungi sapi dari hujan dan matahari, memudahkan manajemen pemberian pakan, perkawinan, pengontrolan pertumbuhan ternak (pencatatan), memudahkan pengawasan dan perawatan, serta vaksinasi terhadap penyakit ternak, memudahkan dalam seleksi dan pelaksanaan kawin suntik, menghindari terjadinya pencurian ternak karena para peternak secara bergiliran ikut menjaga ternaknya dan dapat menghimpun para peternak dalam sebuah kelembagaan.
Selain itu, kotoran sapi dapat ditampung dalam suatu tempat untuk dijadikan pupuk atau biogas, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga, biaya dan tanah untuk membangun kandang, serta memudahkan Dinas Peternakan atau instansi lain dalam membina dan memberikan pelayanan kepada para peternak yang tergabung dalam kandang kolektif. Untuk tujuan inovasi, teknologi dan informasi dalam bidang pertanian dan peternakan, maka pemeliharaan sapi dalam kandang kolektif dapat memudakan para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Berdasarkan uraian tersebut, maka sangat perlu untuk dilakukan pengamatan dan praktek lapangan untuk dapat mengetahui performans peternakan sapi dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya”.

Tujuan Dan Kegunaan Praktek Kerja Lapang
Tujuan Praktek Kerja Lapang
a. Untuk mengetahui performans peternakan sapi dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya” di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat,
b. Untuk mempelajari berbagai aspek dalam dunia peternakan yang meliputi ternak, peternak, dan organisasi masyarakat dalam kandang kelompok,
c. Untuk mempelajari manfaat kandang kolektif, denah, lokasi, perjanjian dan pembagian keuntungan (dalam sistem kadasan), struktur organisasi kandang kolektif dan pengembangan usaha peternakan dalam kandang kolektif “Makmur Jaya”.
Kegunaan Praktek Kerja Lapang
1.Untuk Mahasiswa
Dapat mengetahui tingkah laku sapi bali dan cara-cara pemeliharaan sapi bali dalam kandang kolektif.
2.Untuk Fakultas
Data-data dan informasi dari hasil PKL dapat dijadikan sumber informasi bagi penelitian yang berkaitan dengan performans peternakan sapi dalam kandang kolektif berikutnya.
3.Untuk Tempat PKL
Merupakan sarana untuk bertukar fikiran dan informasi antara peternak dan mahasiswa dalam pemecahan suatu permasalahan yang dihadapi peternak.

KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANG

A.Lokasi, Kondisi Umum Kandang Kolektif “Makmur Jaya” dan Waktu Pelaksanaan PKL
1.Lokasi dan Waktu Pelaksanaan PKL
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di kandang kolektif ”Makmur Jaya I” yang berlokasi di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapang ini dari tanggal 19 Desember 2009 sampai tanggal 15 Februari 2010 dan dilaksanakan selama ± 2 bulan.
2.Kondisi Umum Kandang Kolektif “Makmur Jaya”
Desa Batu Kumbung adalah salah satu desa yang cukup berkembang dan terus memajukan masyarakatnya. Di tahun 1984, Desa Batu Kumbung pernah meraih juara pertama dalam Lomba Desa Tingkat Propinsi. Prestasi tersebut tidak terlepas dari masyarakatnya yang senantiasa menerima saran dan kritik demi perubahan yang lebih baik. Masyarakatnya sebagian besar merupakan petani dan peternak. Usaha peternakan yang digeluti masyarakatnya merupakan usaha yang turun temurun dan terus dipelihara secara tradisional.
Lokasi kandang kolektif ”Makmur Jaya” dibangun di atas tanah milik masyarakat Desa Batu Kumbung. Kandang kolektif “Makmur Jaya”merupakan bagian dari Gabungan Kelompok Tani Desa “Karya Bersama” dan terbagi menjadi tiga lokasi kandang kolektif yakni kandang kolektif “Makmur Jaya I”, “Makmur Jaya II” dan ”Makmur Jaya III”. Luas ketiga kandang kolektif tersebut adalah ± 50 are, dengan luas masing-masing kandang kolektif adalah ± 15 are.
Kandang kolektif “Makmur Jaya I” dibentuk pada tahun 1980 dari dana swadaya masyarakat. Berawal dari kelompok tani holtikultura (khususnya Manggis), kemudian berkembang menjadi kelompok tani ternak. Pada tahun 2006, Desa Batu Kumbung mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa pengadaan sapi bali bakalan sebanyak 42 ekor yang terdiri dari 38 betina dan 4 jantan.
Dari bantuan tersebut, peternak hanya menyediakan lahan dan kandangnya dibuat oleh pemborong yang merupakan pihak ketiga dalam penyaluran bantuan tersebut, dimana yang berperan sebagai pihak pertama yaitu Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Barat dan pihak kedua yakni kandang kolektif “Makmur Jaya”.

Untuk mengetahui bagaimana kondisi bangunan kandang, sanitasi dan struktur organisasi kandang kolektif “Makmur Jaya I”dapat dilihat pada uraian berikut :

Kondisi Bangunan Kandang
Kandang kolektif ”Makmur Jaya I” memiliki desain seperti pada gambar 1 dan terbuat dari bahan-bahan sederhana dan murah dengan konstruksi kandang yang kuat karena bagian pinggiran kandang dibatasi kayu-kayu pemisah.

Semua sapi bali ditempatkan dalam satu kandang yang luas. Dengan atap kandang yang terbuat dari asbes dan berdinding kayu dengan lantai yang disemen. Ketinggian kandang mencapai 3.5 meter dengan panjang ± 10 meter dan lebar ± 6 meter.
Tempat pakan terbuat dari bahan kayu, papan dan bambu. Pada bagian samping tempat pakan sengaja dibuat agak rendah untuk memudahkan sapi untuk makan. Tempat pakan tersebut memiliki panjang 1.5 meter, lebar 1 meter dan tinggi 1.5 meter dengan volume sebesar 1.5 meter3 untuk 2 ekor sapi.

Sanitasi Kandang
Dari hasil pengamatan selama kegiatan PKL di kandang kolektif ”Makmur Jaya I” kebersihan kandang kurang diperhatikan dan peternaknya jarang membersihkan ternak dan kandangnya setiap hari, walaupun ada juga peternak yang sudah memiliki kesadaran akan sanitasi kandang.
Kotoran sapi dan sisa pakan ditumpuk di bagian samping kandang dan belum dimanfaatkan sehingga seringkali dibuang atau dihanyutkan ke sungai yang berada di samping kandang. Kebersihan di dalam kandang juga terkadang sering diabaikan oleh para peternak, begitu juga dengan kebersihan ternaknya.

Dari observasi saat kegiatan PKL berlangsung, dapat diketahui bahwa peternak membersihkan kandangnya sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu. Karena jarang dibersihkan, tak jarang kotoran menumpuk dalam kandang, bercampur debu dan sisa pakan. Para peternak juga jarang memandikan ternaknya, dan bila dimandikan, sapi akan dibawa ke sungai di samping kandang atau dimandikan dalam kandang hanya dengan seember atau dua ember air yang diambil dari sungai tersebut, kemudian menyikat kulit sapi dengan sikat cuci.

Struktur Organisasi
a. Keanggotaan Kandang Kolektif ”Makmur Jaya” secara umum adalah sebagai berikut :
Tahun 1980 : 100 orang
Tahun 2006 : 25 orang
Tahun 2010 : 44 orang

Terjadi penurunan jumlah peternak pada tahun 2006 disebabkan karena masyarakat Desa Batu Kumbung beralih menggeluti bidang holtikultura yang merupakan aset terbesar pendapatan masyarakatnya. Selain itu, rendahnya generasi muda yang menjadi peternak.
Sedangkan pada tahun 2010 terjadi peningkatan jumlah anggota kandang kolektif karena disamping berusaha dibidang holtikultura, usaha sampingan beternak digeluti secara bersamaan. Dimana, penghasilan yang diperoleh dari bertani dan usaha holtikultura diinvestasikan dalam bentuk usaha peternakan sapi, sehingga meningkatkan jumlah peternak.

b.Susunan Pengurus Kandang Kolektif ”Makmur Jaya” adalah sebagai berikut :
•Ketua Gapoktan ”Karya Bersama” : Sukirno
•Ketua kandang kolektif ”Makmur Jaya” : Supardi
•Sekretaris kandang kolektif ”Makmur Jaya”: Supardi
•Bendahara kandang kolektif ”Makmur Jaya” : Ilare

Ketua Gapoktan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelompok tani dan kelompok ternak (kandang kolektif ”Makmur Jaya”) yang ada di Desa Batu Kumbung. Sedangkan ketua kandang kolektif bertanggung jawab terhadap semua kegiatan kandang kolektif ”Makmur Jaya” baik ”Makmur Jaya I”, ”Makmur Jaya II” ataupun ”Makmur Jaya III”. Sekretaris kandang kolektif bertugas dalam pencatatan (recording) data-data sapi yang ada dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya” dan mencatat seluruh kegiatan yang berlangsung dan terkait dengan kandang kolektif.

B.Macam Kegiatan
Selama kegiatan praktek kerja lapang, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir, yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1.Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan persiapan-persiapan seperti :
1.Survey lokasi,
2.Persiapan alat-alat yang akan digunakan yaitu timbangan pakan, tongkat ukur dan pita ukur,
3.Berkenalan dengan para peternak dan fasilitator,
4.Mengambil dokumentasi lokasi,
5.Mewawancarai kepala dusun, dan
6.Mencari peta dusun dan lokasi kandang kolektif.

2.Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap ini dilakukan kegiatan sebagai berikut :
1.Melihat lokasi dan kondisi kandang kolektif,
2.Mewawancarai dan diskusi dengan ketua kandang kolektif dan peternak dengan quisioner yang telah dibuat,
3.Membantu memberikan pakan dan air minum pada sapi bali,
4.Melihat lokasi para peternak mencari pakan,
5.Menentukan umur dan mengestimasi bobot badan sapi dengan pengukuran lingkar dada dan panjang badan dan pendekatan dengan rumus Schrool.
6.Memberikan bibit rumput Mulato 1 pada peternak untuk dibudidayakan.

3.Tahap Akhir
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan yaitu :
1.Meminta tanda tangan ketua kandang kolektif ”Makmur Jaya” dan melengkapi tanda tangan fasilitator,
2.Analisis data dan pembuatan laporan PKL.

HASIL KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANG DAN PEMBAHASAN

Dari kegiatan praktek kerja lapang yang telah dilaksanakan, diperoleh hasil pengamatan dan observasi sebagai berikut :
A. PETERNAK
Pengetahuan dan pengalaman beternak sangat mempengaruhi cara pemeliharaan dan hasil yang dicapai dalam suatu usaha peternakan. Dalam kandang kolektif “Makmur Jaya” jumlah peternak yang tergabung menjadi kelompok adalah sebanyak 44 orang dan peternak yang berasal dari luar anggota sebanyak 30 orang. Para peternak, baik yang tergabung menjadi anggota atau tidak, memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Bagi peternak yang tergabung sebagai anggota kandang kolektif, dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Nama dan Keanggotaan peternak yang ada dalam kandang kolektif “Makmur Jaya I, Makmur Jaya II dan Makmur Jaya III” Pada Tahun 2009

No Nama Jumlah Sapi (Ekor) Jenis Kelamin Termasuk Anggota Kelompok/ Tidak Jenis Kadasan
♂ ♀
1. Mulyadi 1 √ Tidak Individu
2. Taat 1 √ Tidak Individu
3. Nurini 1 √ Anggota Individu
4. Amaq Ayu 1 √ Tidak Individu
5. Amaq Wati 2 √√ Tidak Individu
6. Adi 1 √ Tidak Individu
7. Amaq Soni 1 √ Tidak Individu
8. Amaq Murdi 2 √√ Anggota Pemerintah
9. Amaq Junaidi 1 √ Tidak Individu
10. Ibah 2 √ √ Tidak Individu
11. Iden 2 √ √ Tidak Individu
12. Nengah 2 √ √ Tidak Pemerintah
13. Nurbi 3 √√ √ Tidak Individu
14. Dinah 1 √ Tidak Individu
15. Lebar 2 √ √ Tidak Individu
16. Agus 1 √ Tidak Individu
17. Hamdan 2 √ √ Tidak Individu
18. Rite 1 √ Tidak Individu
19. Marjan 1 √ Tidak Pemerintah
20. Samide 3 √√ √ Tidak Individu
21. Sarine 2 √ √ Tidak Individu
22. Made 1 √ Tidak Individu
23. Murde 1 √ Tidak Individu
24. Purna 1 √ Tidak Individu
25. Kirte 1 √ Tidak Individu
26. Wati 1 √ Tidak Individu
27. Keliq 1 √ Tidak Individu
28. Amaq Hir 2 √ √ Tidak Individu
29. Semini 1 √ Anggota Pemerintah
30. Amaq Saban 2 √ √ Tidak Individu
31. Cakuq 1 √ Tidak Individu
32. Amaq Ri 1 √ Tidak Individu
33. Amaq Sah 2 √ √ Tidak Individu
34. Supardi - - - Ketua Kelompok -
35. Sukirno - - - Anggota -
36. Erwin Sartono - - - Anggota -
37. Suherman - - - Anggota -
38. Asri - - - Anggota -
39. Andar Wijaya - - - Anggota -
40. Sudiono - - - Anggota -
41. Amaq Winata - - - Anggota -
42. Arinun - - - Anggota -
43. Bambang - - - Anggota -
44. Darli - - - Anggota -
Jumlah 48 26 22 Anggota : 14 orang
Luar Anggota : 30 orang
Sumber : Data Primer Diolah (2009)

Tabel 2. Identitas Peternak Dalam Kandang Kolektif ”Makmur Jaya I”
No. Nama Peternak Umur (Th) Pendi-dikan Terakhir Tanggu-ngan Keluarga (Orang) Penga-laman Beternak (Th) Motivasi Beternak (Th) Pekerjaan Lain
1. Mulyadi 39 SD 2 20 Tabungan Petani
2. Taat 39 SD 2 25 Tabungan Petani
3. Nurini 43 - 1 30 Tabungan Petani
4. Amaq Ayu 39 SD 2 25 Tabungan Petani
5. Amaq Wati 39 SMP 2 20 Tabungan Pedagang
6. Adi 38 SD 2 17 Tabungan Petani
7. Amaq Soni 40 SD 2 20 Tabungan Petani
8. Amaq Murdi 40 SD 2 20 Tabungan Petani
9. Amaq Junaidi 39 SD 2 20 Tabungan Petani
Sumber : Data Primer Diolah (2009)

Dari tabel 1. dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir dari para peternak dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya I” adalah SD dan SMP, namun memiliki pengalaman beternak rata-rata lebih dari 20 tahun. Hal tersebut didukung oleh Yasin dan Dilaga (1993) yang menyatakan bahwa sebagian besar peternak sapi bali berpendidikan rendah dan sedikit berasal dari generasi muda. Para peternak memiliki motivasi beternak yang sama yaitu sebagai tabungan atau investasi bila sewaktu-waktu membutuhkan uang.
Kepemilikan ternak sapi dapat mencerminkan tingkat pendapatan dan kondisi perekonomian para peternak. Faktor jumlah pemilikan ternak, biaya obat-obatan dan tenaga kerja berpengaruh positif terhadap pendapatan peternak. Oleh karena itu, peningkatan jumlah kepemilikan ternak akan meningkatkan pendapatan peternak. Dalam bidang peternakan, proyeksi produksi lebih banyak ditentukan oleh jumlah pemilikan ternak. Jumlah pemilikan sapi di peternak sulit untuk ditingkatkan karena keterbatasan kemampuan modal yang dimiliki oleh peternak (Gunawan, dkk, 1998).
Tabel 3. Pemilikan Ternak Sapi Bali Dalam Kandang Kolektif “Makmur Jaya I”
No. Nama Peternak Jantan Betina Anak Jumlah(Ekor)
1. Mulyadi √ 1
2. Taat √ 1
3. Nurini √ 1
4. Amaq Ayu √ 1
5. Amaq Wati √√ 2
6. Adi √ 1
7. Amaq Soni √ 1
8. Amaq Murdi √ √ 2
9. Amaq Junaidi √ 1
Sumber : Data Primer Diolah (2009)


B. TERNAK
Di pulau Lombok, telah melembaga sistem pemeliharaan secara kadasan atau paroan. Seyogyanya sistem ini tetap dipertahankan. Skala pemilikan ternak sebaiknya tetap dalam skala kecil untuk mencegah investasi yang terlampau banyak. Namun demikian, jumlah peternak yang terlibat dapat ditingkatkan (Yasin dan Dilaga, 1993).
1. Asal Usul Ternak Sapi
Untuk dapat mengetahui asal usul sapi bali dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya” dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 4. Asal Usul Ternak Sapi Dalam Kandang Kolektif ”Makmur Jaya I”
No. Nama Peternak Asal Usul Ternak Sapi Keterangan
1. Mulyadi Hasil kadasan Kadasan pemerintah
2. Amaq Taat Kadasan Kadasan individu
3. Nurini Kadasan Kadasan individu
4. Amaq Ayu Hasil kadasan Kadasan pemerintah
5. Amaq Wati Membeli Membeli dengan modal sendiri
6. Amaq Adi Membeli Membeli dengan modal sendiri
7. Amaq Soni Kadasan Kadasan individu
8. Amaq Murdi Hasil kadasan dan membeli Kadasan pemerintah dan membeli dengan modal sendiri
9. Amaq Junaidi Hasil kadasan Kadasan Individu
Sumber : Data Primer Diolah (2009).

Untuk perjanjian pembagian keuntungan dalam kandang kolektif “Makmur Jaya” terdapat 2 bentuk sistem kadasan yaitu kadasan pemerintah dan kadasan individu.
1.Kadasan Pemerintah
Pola pengembalian adalah 1 : 1 = 4, artinya setiap satu ekor ternak yang diterima/ dikadaskan dikembalikan satu ekor keturunan (anak sapi) dalam jangka waktu empat tahun. Jadi, terdapat perjanjian bahwa selama ± 4 tahun, sapi bantuan pemerintah tidak dapat dijual. Peternak hanya diperbolehkan menjual ternak hasil kadasan (turunannya), sedangkan induknya menjadi milik kandang kolektif dan akan dipelihara secara bergiliran/ sistem bergulir dengan peternak lain dalam kandang kolektif tersebut. Bila hasil kadasan pemerintah dijual, maka keuntungannya dibagi menjadi 3 bagian, dimana dua bagian untuk peternak dan satu bagian untuk kandang kolektif.
Contohnya :
Bila harga penjualan sapi bantuan (induk) dijual dengan harga Rp. 5.000.000,- dan diperkirakan modal pembelian ternak yang akan dikembalikan pada kandang kolektif sebesar Rp. 3.500.000,- maka, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 1.500.000,- yang kemudian akan dibagi menjadi 3 bagian. Dimana, 2 bagian dari Rp. 1.500.000,- untuk peternak yakni sebesar Rp. 1.000.000,- dan 1 bagian dari Rp. 1.500.000,- yakni sebesar Rp. 500.000,- menjadi milik kandang kolektif untuk tambahan pembelian sapi bersama/ sapi masyarakat dan untuk dana perbaikan kandang kolektif.
2.Kadasan Individu/ Pribadi
Dalam pembelian bibit sapi, biasanya pemilik modal bersama-sama dengan peternak memilih ternak di pasar hewan, karena peternak biasanya lebih mengetahui bibit ternak yang baik. Dalam penjualan ternak, modal kembali pada pemilik modal dan keuntungannya dibagi menjadi 2 bagian, dimana 1 bagian untuk pemilik modal dan 1 bagian lagi untuk peternak.
Contohnya :
Bila modal dalam pembelian ternak sebesar Rp. 4.000.000,- dan penjualan ternaknya dengan harga Rp. 5.000.000,- maka diperoleh keuntungan sebesar Rp. 1.000.000,- yang kemudian akan dibagi dua antara peternak dan pemilik modal. Jadi keuntungan yang diperoleh pemilik modal dan peternak adalah sama besar yakni Rp. 500.000,-
Pembagian keuntungan kadasan dari kandang kolektif


2. Ukuran Tubuh dan Bobot Badan Ternak Sapi
Ukuran tubuh dan bobot badan sapi bali dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya” dan perbandingan bobot badan sapi dari berbagai sumber dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5. Ukuran Tubuh Dan Bobot Badan Sapi Bali
No Umur Ternak Jenis Kelamin
(♀ / ♂) Panjang Badan (cm) * Lingkar Dada (cm) ** Taksiran Bobot Badan (Kg) *** Umur Sapi (Th) Bobot Badan Sapi Dari Berbagai Sumber (kg)
Jantan Betina
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11. 5 Bulan
2 Tahun
2.5 Tahun
2.5 Tahun
2.5 Tahun
2.5 Tahun
4 Tahun
3.5 Tahun
5 Tahun
4 Tahun
3.5 Tahun ♀









♀ 92
93
96
107
107
109
109
109
110
110
117 80
140
142
140
145
134
145
143
153
150
156 104,04
262,44
268,96
262,44
278,89
243,36
278,89
272,25
306,25
295,84
316,84 1
2
3
4
5 133-147
210-260
400-495
260-320
320-400 121-133^
170-225
300-370^
225-240^^
240-300^^
Sumber : Data Primer Diolah (2009)
Keterangan :
Tanda * diukur dengan tongkat ukur
Tanda ** diukur dengan pita ukur
Tanda *** diprediksi dari panjang (cm) dan lingkar dada (cm),
Bobot badan sapi diprediksi dengan rumus “Shcrool” yang dikutip Siregar (1994) :
( LD + 22 )"/ 100 LD = Lingkar dada dan " tanda untuk kuadrat )pangkat2

Tanda ^ Pane (1990), ^^ Tillman (1981) yang disitasi Gunawan, dkk, (1998)

Penampilan fisik sapi bali dapat mencerminkan kondisi tubuhnya secara keseluruhan. Penampilan tubuh yang baik tentunya didukung oleh ukuran tubuh yang proporsional serta bobot badan normalnya sesuai dengan umur (Soeprapto dan Abidin, 2006). Taksiran bobot badan sapi bali dalam kandang kolektif ”Makmur Jaya” tidak jauh berbeda dengan bobot badan sapi bali pada berbagai sumber.

KOMPOSISI KIMIA DAN PALATABILITAS BUNGA AREN (Arenga pinnata) UNTUK SAPI BALI JANTAN DEWASA DI DESA BATU MEKAR, KECAMATAN LINGSAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT

INTI SARI SKRIPSI
OLEH
RIA HARMAYANI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia (analisis proksimat), palatabilitas dan potensi produksi bunga aren jantan di Kabupaten Lombok Barat. Analisis data yang digunakan adalah dengan menghitung nilai rerata/mean untuk komposisi kimia bunga aren dan uji t test 2 sampel independen untuk uji palatabilitas. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama, penelitian komposisi kimia bunga aren dengan menggunakan analisis proksimat yang dilaksanakan di Laboratorium INMT Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Tahap kedua, penelitian palatabilitas bunga aren dengan pendugaan tingkah laku makan dan pengukuran konsumsi bunga aren, dimana pakan standar yang digunakan adalah rumput lapangan. Dalam uji palatabilitas ini digunakan 3 ekor sapi bali jantan dewasa dengan umur ± 2 tahun. Tiap ekor dari 3 ekor sapi diberikan bunga aren dan rumput lapangan sebanyak 1 kg, kemudian mengukur waktu konsumsi pakan selama 5 menit, sehingga diperoleh rata-rata konsumsi per menit. Uji palatabilitas selama 3 hari (1 hari tahap adaptasi dan 2 hari tahap koleksi data) di kandang kolektif Dusun Punikan, Batu Mekar-Lingsar-Lombok Barat. Tahap ketiga, pengumpulan data mengenai potensi produksi bunga aren di Kabupaten Lombok Barat yang diperoleh dari BPS NTB dan Dinas Kehutanan Dan Perkebunan NTB, serta dari petani aren. Hasil yang diperoleh adalah komposisi kimia bunga aren terdiri atas Komposisi kimia bunga aren terdiri atas 83,663 persen bahan kering, 6,421 persen abu, 11,923 persen protein kasar, 2,675 persen lemak kasar, 18,705 persen serat kasar dan 60,276 persen BETN. Komposisi kimia bunga aren mendekati komposisi kimia dedak padi halus. Bunga aren dapat digolongkan sebagai bahan pakan sumber energi (karbohidrat) seperti halnya rumput lapangan, tetapi nilai gizinya lebih tinggi dan lebih palatabel (lebih disukai) daripada rumput lapangan karena bentuknya seperti biji atau butiran, memiliki aroma seperti gula dan diperkirakan rasanya manis. Rata-rata konsumsi bunga aren oleh sapi jantan dewasa sebesar 41,819 gr BK/ekor/menit, sedangkan rata-rata konsumsi rumput lapangan sebesar 4,527 gr BK/ekor/menit. Luas lahan tanaman aren di Kabupaten Lombok Barat adalah ± 262 Ha dengan jumlah tanaman aren sebanyak ± 655.000 pohon, dengan persentase bunga aren tanpa tongkol adalah 86,67 persen per tandan, sehingga potensi produksi limbah bunga aren tanpa tongkol di Kabupaten Lombok Barat adalah 32.750 ton/ tahun.

Husbandry And My Live

"Dan dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu)yang menghangatkan dan berbabagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan"(QS. An Nahl : 5)

Live is never flat, Live is an adventure, and Live is amazing..

Tak ada yang tak mungkin, hanya butuh kesabaran, keyakinan bahwa tuhan Maha Adil dan kerja keras yang sungguh-sungguh. Hanya saya yang dapat mengubah hidup saya. Karena itu, pilihan hari ini menentukan jadi apa saya besok. Tetap jalani proses demi proses, tanpa terbebani hasil yang seringkali membuat terobsesi. Inilah cerita hidup saya yang ingin saya bagikan untuk orang-orang yang saat ini tertekan bathinnya hingga terjerumus dalam keputus asaan yang menyakitkan.
Semoga bermanfaat.